Ban yang terbakar

 

BAN YANG TERBAKAR

   Udara tertutup oleh kabut asap hitam, banyak yang terbakar pada hari ini, rumah, toko, ban mobil, pelontar gas air mata, ataupun tembakan para aparat pemerintah. Ini terjadi pada tanggal 14 Mei 1998, di ibu kota Jakarta. Orang tionghoa, berlarian menghindari kerusuhan orang-orang yang kelaparan dalam segala hal, ingin uang, wanita, meluapkan kemarahan dirinya, atapun terpancing karena banyak orang yang sudah gila melebihi anjing dalam berbuat sesuatu, mungkin sayapun seperti itu.

  Para aktivis berkoar menyerukan keinginan para mahasiswa, sehingga para mahasiswa hatinya membara dan tak bisa mengendalikan diri, “lengserkan Hoeharto…!”, sayapun ikut mengoarkan suara, “turunkan BBM!”. Mengerikan sekali melihat suasana ini dengan cuaca hitam, muka dan pikiran merah, darah banyak yang mengalir, dari pihak aparat, mahasiswa, dan lebih mengerikannya lagi dari orang-orang Tionghoa, banyak para wanita tionghoa yang diperkosa, luka di muka, kaki, tangan ataupun diselangkangan, itupun yang melakukan bukan mahasiswa, tapi anjing menyerupai manusia yang berhati hitam daki.

  Teman-teman sayapun banyak yang terluka karena terpukul oleh para aparat sehingga kepala mereka bercucuran darah, saya dari pihak penyelenggara demonstrasi ditugaskan untuk menjadi relawan, membantu mahasiswa ketika terluka, ataupun pingsan. Sangat menyedihkan sekali apabila melihat teman dalam keadaan bercucuran darah, tangan bengkak, ataupun kaki berdarah. Hati saya tak terima melihat teman saya sampai begini, sayapun berlari mendekati para aparat yang membawa senjata, “heii kamu aparat, kami dating kesini bukan untuk berperang, cari uang, cari wanita, ataupun cari muka biar dilihat keren, tapi tujuan kami kesini untuk membela rakyat, agar kami tidak merasa dijajah, ingin menurunkan pak Harto, biar BBM bisa turun, biar  pengangguran tidak banyak di negri ini, dan juga peraturaan HAM bisa di tegakkan, kalo negara kacau balau begini siapa yang mau bertanggung jawab, dasar sialan,”kata saya. Para aparat tiba-tiba memukul kepala saya dengan pentungan, “anjirr bangsat….!” kepala saya tiba-tiba pusing, saat itu juga saya memegang kepala, ternyata kepala saya berdarah, sakit dicampur pedih, sayapun berlari mundur berlari kebelakang, tiba-tiba sayapun terjatuh dan bumipun terasa gelap (pingsan).

  Mata terbuka dimalam hari, sayapun duduk dibawah pohon, melihat kericuhan semakin besar, para mahasiswa membakar ban dan membuat para polisi khawatir, mahasiswapun menjadi-jadi ketika api ban semakin besar, asap hitam bersatu dengan malam menjadikan semakin hitam, bara api seperti berpindah ke hati makhluk yang melihatnya, kemarahan, ketidak adilan, penyiksaan, pemerkosaan, penindasan, pembunuhan, seperti bersatu dan menjadikan asap yang terbang ke jagat langit, semoga Tuhan tidak hanya mendengarkan tetapi juga merubah keadaan. Saya yakin ketika manusia berpikir, bergerak dan juga berani mengorbankan, dan kekacauan dalam puncak-puncaknya, maka pasti akan ada perubahan yang lebih baik, seperti ban yang dibakar yaitu kekacauan, kemarahan, membuat kita berpikir, maka ban itu akan meleleh dan hilang.

Karya: Rama wiguna

Komentar